Mitos atau Fakta Sering Menggendong Sebabkan Anak "Bau Tangan"?


“Bau Tangan” akibat Sering Menggendong Anak, Mitos atau Fakta?


Sumber gambar: google
Sebagai Negara yang memiliki keragaman adat istiadat dan budaya, Indonesia memiliki banyak mitos-mitos yang selalu berkembang di masyarakat. Salah satu dari sekian banyak mitos yang berkembang di masyarakat kerapkali menyerang para orang tua yang baru memiliki anak, di mana para orang tua yang sudah menganggap dirinya sebagai senior/ sesepuh sering memarahi orang tua baru saat para orang tua baru terlihat memiliki frekuensi yang cukup sering dalam menggendong anaknya; pernyataan “ih awas jangan sering-sering menggendong si anak, nanti jadi bau tangan”, kemudian melabeli para orang tua baru dengan “tidak bisa mengurus anak” sehingga anak menjadi sangat manja, akibat sering digendong.

Seringkali para orang tua baru hanya menelan rasa sakit hati atas ucapan para senior, dan pada akhirnya mengikuti perkataan senior yang dianggap sudah sering “makan asam garam” atau lebih bijaknya dikatakan berpengalaman. Padahal anggapan tersebut hanyalah sebuah mitos belaka, dan pada saat itu para senior belum memiliki pengetahuan yang lebih berdasar; hanya mencipta mitos sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena di sekitar pada masa itu.

Pada akhirnya mitos hanyalah mitos yang sangat mungkin tidak akan menjadi fakta, mitos hanyalah mitos yang tak perlu diyakini kebenarannya; seperti halnya mitos “bau tangan”. Pengertian “bau tangan” itu sendiri merujuk pada makna kecenderungan bahwa anak akan menjadi manja, menangis dan meminta untuk selalu digendong oleh sang Ibu/ penggendong. Biasanya istilah ini digunakan para senior untuk menasihati para orang tua yang baru memiliki anak, agar anak tidak sering-sering digendong.

Bukan mitos, faktanya menggendong memiliki banyak manfaat positif terhadap pertumbuhan anak. Anak yang sering menangis, terutama anak yang baru lahir bukan dikarenakan anak sudah menjadi “bau tangan”, melainkan ia baru beradaptasi dengan lingkungan barunya; jadi anak merasa lebih senang digendong, karena dengan digendong akan memunculkan rasa aman dan nyaman saat berada dalam sebuah dekapan hangat orang tuanya.

Lantas sering menggendong bukanlah menjadikan anak menjadi “bau tangan”, melainkan anak mencari rasa aman dan nyaman yang timbul dari sebuah gendongan.
Bagaimana bisa menggendong yang memiliki banyak manfaat dan dapat memberi rasa aman dan nyaman kepada anak dianggap hal yang salah?
Salahkah cara orang tua memberikan yang terbaik untuk anak dengan menggendong?

Comments

Popular Posts