Yang Hilang, Berganti?

Perginya Seorang Anak “Rumah Cerdas Kepodang”

Bukankah kemarin merupakan awal perjumpaan antara Kau dan Aku, Dik? Ku kira selanjutnya kita akan selalu berjumpa, Kau bilang Kau lebih senang dengan pelajaran matematika, lantas Kau tolak tentang apa itu bahasa inggris dan IPA.
Kau selalu mencari gara-gara; "matematika! Aku tak suka IPA! lebih baik aku tertawa sepuasnya!"  Kau bermain slime, Aku mengumpat. Tapi Kau malah bahagia atas segala umpatan yang kucipta; "lebih baik kuteruskan saja, supaya Kau lebih geram", katamu sambil tersenyum mengejek.
Ku kira setelah pertemuan pertama, kita akan terus berjumpa; membahas waktu dalam matematika. Alah ternyata Kau tiada, yang semula kukira hanya pura-pura.  Jangan tanya apakah Aku bahagia atau berduka, sebab Aku tak ingin menjawabnya.
Selamat Jalan, Dik. Semoga Kau lebih bahagia! Melalui RCK Aku memahamimu, tapi Tuhan berkali lipat lebih memahamimu.
Selamat jalan,
Perihal kepergian, telah menjadi rahasia Tuhan. Baik Kau dan Aku pasti akan pergi;
Cepat atau lambat pergi tetaplah pergi, meninggalkan atau ditinggalkan: sudah menjadi hal yang pasti.
Kau anak yang pandai, namun perihal habisnya usia tak memandang pandai atau tidak, tak memandang tua atau muda, tak memandang sehat atau sakit.
Kau pergi lebih dahulu, agar Kau bertambah bahagia.

Sekali lagi,
Selamat jalan, Rumah Cerdas Kepodang tak lagi memiliki mu.

Comments

Popular Posts