Selamat Jalan N.H. Dini, Karyamu Abadi

“Keberangkatan” N. H. Dini Mengantarkan Kepulangannya

Berita Kepergian N. H. Dini,  dok: screenshoot  dari berita Tempo

Berita kecelakaan mobil
online dengan truk di tol Tembalang sangat mengejutkan bagi para masyarakat terlebih masyarakat yang sedikit banyak mengenal sastra, tak terkecuali bagi diriku sendiri. Pasalnya, sastrawan wanita berusia 82 tahun ini menjadi korban kecelakaan.  Entahlah, dari sekian banyak mobil di tol Tembalang namun takdir memilih mobil yang ditumpangi Ibu N. H. Dini.

    Setelah kudengar berita tersebut, lantas aku mengkroscek kebenarannya: membuka akun sosial media facebook, instagram,  twitter, dan laman berita lainnya. Beranda facebookku dipenuhi dengan status para dosen,  senior, rekan-rekan penyiar sastra yang menanyakan “mohon info apa benar mbak N. H. Dini sudah menghadap sang Kuasa?”, atau sebagian besar lagi memposting foto beliau dengan keterangan “selamat jalan”.

  Aku pun turut mengunggah foto almarhumah untuk mengantarkan keberangkatannya dengan selipan keterangan dari hati yang lumayan menyedihkan: tak percaya keberangkatannya kepada Tuhan dihantar dengan sebuah kecelakaan  (yang kukira di awal adalah karena sakit yang telah diderita). Aku turut bersedih sedalam-dalamnya mendengar dan mengetahui berita tersebut.

 Aku mulai mengagumi beliau sejak awal perkuliahan, saat aku memutuskan untuk belajar menyukai sebuah bacaan: sebab aku menyukai karya-karya feminis,  sebab pula pertama kali aku membaca karya-karya feminis miliknya-- Keberangkatan,  Pada Sebuah Kapal,  dan La Barka (pada saat itu) yang kutemukan dalam rak-rak buku di perpustakaan yang bentuknya sudah tak laik baca.
Ketiga buku tersebut sudah sangat kuning pekat tanda sudah dipenuhi jamur, dan sampulnya hanya setengah judul bekas luka sobekan. Meski begitu keadaannya, aku tetap penasaran membaca lembar demi lembar ide yang beliau tuliskan,  walau aku sering kecewa karena sering kutemui lembar halamannya menghilang setengah: memutus jalan cerita.

   Dari buku-bukunya yang telah kubaca,  sedikit banyak aku paham bagaimana kehidupannya dahulu bersama suami, anak dan orang-orang terdekatnya di Perancis.
Dari kegelisahanku membaca karya-karyanya, sedikit banyak aku mengetahui bagaimana perjuangannya melanjutkan hidup setelah berpisah dengan suami dan anaknya yang bekerja sebagai dubber dalam film minions yang sangat dikenal oleh banyak masyarakat.
Dari informasi yang kugali sejak mengagumi N. H. Dini,  ada kesedihan serta rasa lebih besar mengagumi dari sebelumnya setelah mengetahui bahwa: di Indonesia,  ia memilih tinggal di panti wreda Banyumanik yang lokasinya tak jauh dari kampusku, alasannya hanya satu: tak ingin membuat keluarganya repot.

   Pernah beberapa kali aku dan kawan-kawan lain ingin sowan dan berbicara terkait ilmu sastra yang dimiliki namun kondisi saat itu tak tepat: tempat tinggal beliau yang berada di panti,  tak memungkinkan kami untuk sowan dalam jumlah banyak, sebab khawatir mengganggu penghuni lain. Sebab lain penyebab kami tidak jadi sowan adalah karena beliau saat itu sedang kurang sehat. Jadilah kami hanya mendoakan kesembuhan beliau.

Hingga kini, rasa penasaranku terhadap sosok feminis yang luar biasa ini masih ada. Namun raganya sudah tidak.
Kesedihan dan kepedihan sedalam-dalamnya banyak diungkap oleh banyak orang, doa pun sama.
Selamat jalan Ibu  N. H. Dini, ada atau tidak ada kau saat ini,  karyamu abadi.
Selamat berangkat dengan tenang.

    
    

Comments

Popular Posts