Sebelum Menikah Penting untuk Menyiapkan Hal ini

Sudah Siap Menikah? Ini yang Harus Dimiliki

Menikah adalah hal yang diinginkan oleh semua orang. Bahkan jauh-jauh hari sebelum pernikahan berlangsung, banyak orang yang memiliki angan-angan pernikahan masing-masing atau wedding dream. Ada yang ingin menggelar pesta dengan konsep yang mewah, konsep yang unik, ada yang beranggapan ingin menjadi raja dan ratu sehari, karena dianggap sebagai hal yang akan dilewati sekali seumur hidup dan tidak akan terulang (yang diharapkan). Namun terkadang apa yang diharapkan atau yang disebut-sebut sebagai wedding dream tidak selalu berjalan sesuai rencana, sehingga banyak orang yang terpaksa merelakan wedding dreamnya tidak terlaksana. Apa sebabnya?

Pernikahan tidak melulu tentang pesta, esensi dari pernikahan itu sendiri mungkin lebih tepat dengan akad yang dianggap sakral, diucap untuk mengikat janji sesuai dengan ketentuan hukum dan agama. Sejauh  ini yang sangat penting dari sebuah pernikahan adalah akad, lain-lainnya seperti resepsi, pesta, selamatan adalah bentuk rasa syukur baik secara vertikal maupun horizontal; manusia terhadap Tuhan, dan manusia terhadap manusia lainnya.

Umumnya, wedding dream banyak disalurkan melalui sebuah konsep pernikahan dalam sebuah resepsi yang mana diketahui adalah bentuk dari rasa syukur; sebab sedang dalam kondisi berbahagia, banyak orang yang merasa perlu mengajak orang lain ikut berbahagia--  Semakin banyak orang lain yang ikut berbahagia, semakin baik.
Maka setiap adanya pernikahan, selalu diikutsertakan rasa syukur dengan cara berbagi; syukuran, selamatan, resepsi, pesta (apapun yang melibatkan banyak orang turut merasakan kebahagiaan). Namun dalam prakteknya resepsi dalam bentuk pesta lah yang banyak dipilih kebanyakan orang untuk mengucap rasa syukur, sehingga muncul konsep wedding dream yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Adanya pernikahan yang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, membuat pelaksanaannya akan lebih matang; baik secara finansial maupun konsep (dan peluang terlaksananya wedding dream lebih besar). Namun saat ini banyak pula yang masih memaksakan wedding dream terlaksana dengan baik tanpa adanya perhitungan konsep dan finansial secara matang; semua serba dipaksakan. Misal, memiliki konsep yang baik namun tidak dengan finansial, akibatnya setelah wedding dream terlaksana, utang pun tumbuh di mana-mana. Maka dari itu penting juga sebuah ego dikontrol dengan baik jika sebuah wedding yang diimpikan sejak lama tak mungkin terealisasi.

Munculnya permasalahan tersebut, membuat para calon pengantin dituntut siap secara finansial; keduanya harus memiliki modal (bukan hanya pihak laki-laki saja). Tak dapat dipungkiri, sebuah resepsi atau pesta terkadang tidak melulu diinginkan oleh kedua calon pengantin, namun datang dari permintaan orang tua pengantin dengan berbagai macam alasan; anak perempuan tidak dipestakan dan hanya nikah KUA akan dianggap hamil duluan, anak pertama maka harus dibuatkan pesta, anak terakhir harus dibuatkan pesta sebagai penutup, anak perempuan satu-satunya, dan anak-anak lainnya.
Mengapa kedua mempelai harus punya modal sendiri? Banyak hal yang dapat dijadikan jawaban:
  1. Mewujudkan wedding dream yang sudah diimpikan calon pengantin sejak lama,
  2. Mewujudkan pernikahan yang diharapkan orang tua pengantin,
  3. Orang tua hanya tinggal memberi dana tambahan jika modal yang dimiliki tidak cukup (tidak lebih membebani),
  4. Jika memiliki perbedaan konsep dengan orang tua, pengantin berhak menolak sebab pengantin menggunakan modal sendiri dan tidak menggunakan dana orang tua,
  5. dan jawaban-jawaban lainnya yang bisa saja dibuat-buat.
Jika modal dirasa kurang untuk mengadakan resepsi atau pesta pernikahan? Tanpa resepsi atau pesta, pernikahan pun tetap berjalan dengan akad.
Jangan memaksa untuk mengadakan sebuah resepsi atau pesta; jika hal ini terjadi, gunakan kontrol ego dan berpikir lagi bahwa menikah bukan melulu tentang resepsi atau pesta.
Lantas jika yang menginginkan resepsi atau pesta adalah orang tua calon pengantin? sebagai orang yang sudah lebih tua, selayaknya sudah mengerti tentang “kebijakan” tanpa harus “memaksakan”.

Menikah bukan melulu tentang pesta, melainkan tentang “kesiapan”.

Comments

Popular Posts