Mempersiapkan Pernikahan dengan Seminar Parenting

Pentingnya Parenting dalam Sebuah Rumah Tangga

Pernikahan adalah sebuah tujuan yang selalu diidamkan oleh hampir semua orang. Tiap-tiap orang berusaha mempersiapkan pernikahan sebaik mungkin dengan cara yang berbeda-beda, salah satu contohnya adalah dengan belajar parenting sebelum siap membina rumah tangga.
Beberapa waktu lalu aku menyempatkan untuk hadir dalam sebuah acara seminar parenting bersama salah seorang temanku yang diselenggarakan di salah satu universitas negeri di Jakarta, seminar ini diadakan bukan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sedang dalam mempersiapkan pernikahan, melainkan terbuka untuk umum mengingat tema yang diangkat dalam seminar parenting ini adalah broken home: pain yesterday, new hope tomorrow. Peserta yang hadir banyak dari kalangan orang tua dengan status single parent, mahasiswa-mahasiswa yang orang tuanya sudah berpisah, mahasiswa-mahasiswa yang memiliki masalah dengan orang tua, orang-orang yang akan melangsungkan pernikahan, dan pengangguran/ non pengangguran yang sedang mengisi waktu luang.
Seminar parenting ini diisi oleh tiga pembicara yang sangat menginspirasi serta membuka luas pikiranku terkait pernikahan dan parenting;Ummu Balqis (parenting/ marriage enthusiast), Rosnalisa Zein (psikolog di bidang parenting), Alia Noor A (broken home survivor/ founder dreamdelion).

Seminar Parenting; dokpri

     Menikah bukanlah hal yang mudah dan sederhana, maka dari itu tiap-tiap orang yang akan melangkah ke jenjang pernikahan harus menyiapkan mental yang besar. Sebagai perempuan yang mulai menghadapi banyak pertanyaan "kapan nikah" oleh banyak orang, aku pun merasa menikah bukan hal yang harus disepelekan, menikah bukan perkara "buru-buru" melainkan perlu disegerakan jika memang sudah mungkin, tentu sesuai dengan syariat. Ada beberapa poin penting yang aku dapat dari seminar parenting ini:

1) Manajemen Emosi
Pernikahan adalah ujian, dan di dalam sebuah pernikahan tidak diperbolehkan untuk berperilaku "itung-itungan"; maka dari itu menejemen emosi sangat diperlukan.

 "pernikahan adalah ujian, dan setiap ujian pasti selalu ada solusi".

2) Mempersiapkan Ujian?
sebab siklus hidup adalah: ujian-cari solusi- bantuan datang- kemudian dapat kemudahan- datang ujian baru- begitu seterusnya. Maka yang harus dipersiapkan agar siap menghadapi ujian adalah: menguatkan diri dengan aqidah- menguatkan hati- pikir solusi- cari tau ilmunya- dan adanya support system.

3)  Pola Asuh terhadap Anak harus Diperhatikan
Setelah menikah, parenting sangatlah dibutuhkan; anak adalah prioritas. Aku sendiri- sebagai perempuan yang pasti ingin menikah tanpa tau kapan waktu yang tepat, mulai berpikir bagaimana cara mengasuh anak yang baik dan benar.
     Dari seminar yang disampaikan oleh salah satu pembicara sebagai psikolog, aku jadi paham bahwa pola asuh anak yang baik adalah dengan memperhatikan "kapan waktu yang tepat" di mana ada empat pola asuh orang tua terhadap anak:
- pola asuh otoriter dan tegas (usia 3-6 tahun supaya kedisiplinan muncul dan tertanam dengan baik),
- setelah lepas dari usia 6 tahun, kurangi pola asuh otoriter dan terapkan pola demokrasi (kedudukan anak dan orang tua sejajar, sehingga anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab namun tetap dalam pengawasan orang tua); terapkan sampai anak merasa cukup untuk berdemokrasi.
- pola asuh permisif (segala ketetapan berada di tangan anak dan orang tua menuruti segala kemauan anak); untuk pola ini terapkan jika anak dirasa sudah bisa mengambil keputusan sendiri dan sudah siap untuk dilepas oleh orang tua.

4) Berpikir Cara Membentuk Kepribadian Anak
Setelah menikah dan memiliki anak, orang tua berperan besar dalam membentuk kepribadian anak. Maka dari itu orang tua harus mempersiapkan diri agar anak memiliki kepribadian yang baik. Kepribadian anak bergantung dari situasi yang diciptakan keluarga di dalam lingkungan keluarga itu sendiri:
          Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka anak belajar untuk memaki,
          jika dibesarkan dengan permusuhan, maka anak belajar berkelahi,
          jika dibesarkan dengan hinaan, maka ia belajar rendah diri,
          jika dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri,
          jika dibesarkan dengan mtivasi, maka ia belajar percaya diri,
          jika dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai,
          jika dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya,
          jika dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri,
          jika dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
          maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya.

     Selain empat poin di atas, ada hal penting lain yang disampaikan oleh pembicara, mengingat tema yang diangkat adalah broken home, yang tentu berdampak pada anak. Ada beberapa peserta yang sengaja bertanya tentang persiapan pernikahan, di mana ia sendiri belum yakin untuk menikah karena masih memiliki kekhawatiran dan ketakutan akibat dampak dari perceraian orang tua, maka yang harus dilakukan adalah memaafkan orang tua dan belajar dari pengalaman orang tua, bicarakan dan selesaikan permasalahan dengan orang tua agar pernikahan yang akan dijalankan berjalan dengan baik.

  Seminar parenting ini sedikit banyak membantuku untuk menentukan langkah dalam mempersiapkan pernikahan. Setidaknya aku lebih berpikir luas dalam mempersiapkan diri, sebab pernikahan bukan sebuah permainan yang harus dilakukan dengan "buru-buru".

Aku tidak lagi merengek sendiri dalam hati "kapan aku menikah?".

   

Comments

Popular Posts