HAM Tak Memiliki Batas?


HAM sebagai Dalil “Kebebasan”dan Tak Memiliki Batas?

Tahukah Anda mengenai Hak Asasi Manusia (HAM)? Apa itu sebenarnya HAM? Menurut UU No 39 Tahun 1999, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, di mana hak tersebut merupakan anugerah yang wajib dilindungi dan dihargai oleh setiap manusia guna melindungi harkat serta martabat setiap manusia.

Adakah yang bertanya mengenai: “Sebenarnya seberapa jauh batasan Hak Asasi Manusia (HAM) itu sendiri?” terkait permasalahan HAM: manusia berhak untuk apa saja dengan syarat- tidak ada hukum yang melarang dan tidak mengganggu kebebasan orang lain. Menurut saya, yang memberikan batasan pada HAM adalah agama, karena agama itu sendiri merupakan aturan atau norma. Lantas dalam penerapannya, sudahkah HAM sesuai dengan Undang-undang dan aturan atau norma tersebut?

Dewasa ini banyak peristiwa yang mengatasnamakan HAM- semuanya dianggap wajar, kenyataannya adalah salah kaprah, salah satu contoh konkretnya adalah isu-isu yang belakangan ini hangat diangkat oleh media, yaitu kekerasan guru terhadap murid yang diketahui latar dari adanya kekerasan tersebut dipicu oleh umpatan murid terhadap gurunya saat sang murid diberi sanksi karena tidak mengerjakan tugas. Bukankah yang dilakukan guru tersebut adalah hal yang wajar karena masih dalam bingkai proses pendidikan? benarkah tindakan tersebut merupakan tindak kekerasan yang melanggar HAM?

Contoh lain adalah permasalahan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) yang menimbulkan pertentangan pendapat antara pihak yang mendukung adanya LGBT dengan dalil atau mengatasnamakan HAM dan pihak yang menentang adanya LGBT dengan dalil moral dan agama. Kasus LGBT ini sudah tidak asing lagi , bahkan di beberapa Negara seperti Amerika, Belanda, Belgia, Meksiko, Argentina, Perancis, Portugal, Islandia, Argentina, Uruguay, Spanyol, Kanada, Norwegia, dan Swedia sudah melegalkan pernikahan sesama jenis atau LGBT atas dasar Hak Asasi Manusia (HAM).

Sedang di Indonesia sendiri, belakangan diketahui berdasarkan laman web www.bbc.com pada tahun 2015 lalu pernah diadakan perayaan Hari Internasional Melawan  Homophobia dan Transphobia (IDAHOT) di kawasan car free day Jakarta, di mana ada sebuah ungkapan dari Menteri Agama- Lukman Hakim Saifuddin: “LGBT merupakan pilihan pribadi”. Dari ungkapan tersebut, tersirat bahwa beliau tidak melarang adanya LGBT-- lagi, mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM).

Bagaimana dengan pihak yang menentang dengan dalil moral dan agama? bukankah memang HAM dibatasi oleh moral dan agama? terlebih mengenai persoalan LGBT ini. Menurut Jauhari, US yang menulis artikel di laman http://djafa.org/id/ham-penerapan-dan-batasannya/ , yaitu

manusia adalah makhluk sosial, secara otomatis hal tersebut membatasi “naluri” manusia untuk berbuat sesuka hatinya, karena hanya dengan hidup seorang diri, manusia baru bisa berbuat sesuka hatinya tanpa ada batasan apapun yang menghalanginya. Agama adalah aturan/norma-- agama telah mengetahui bahwa manusia suka kebebasan, suka berbuat sesuka hati, terkadang tanpa mau tau apakah kebebasan itu mengganggu orang lain atau tidak. Karena itulah, agama hanya membahas “aturan yang mengatur hak asasi tersebut”.


Sebagai contoh bahwa agama membatasi hak asasi manusia: semua orang bebas untuk berpendapat, namun perlu diperhatikan apakah pendapat tersebut menyangkut orang lain atau tidak, menyakiti atau menyenangkan orang lain, karena setiap orang lain berhak untuk hidup tenang tanpa ada orang lain yang menyakitinya secara lisan maupun tindakan. Dari contoh tersebut, diketahui bahwa agama memberikan hak berpendapat kepada manusia, namun membatasinya dengan “jangan sampai menyakiti orang lain”.

***

Kembali dengan pertanyaan di muka: 

Apakah HAM tak memiliki batas?
Mengapa HAM kerap disalahartikan dan digunakan sebagai dalil kebebasan? —Lagi, mengatasnamakan Hak Asasi Manusia (HAM).





Comments

Popular Posts