Bayaran yang (Masih) Tertunda



Pura-pura Konflik di tengah Menunggu Bayaran yang Tertunda


“nek aku dadi kowe, aku ra gelem nduwe prinsip loyalitas karo bos besar. Kowe nduwe hak tapi ya durung kowe jupuk”, ucapan seorang kawan yang juga pelakon--sebagai pemantik.
Memantik kemarahan kawan-kawan lainnya.

Baru saja aku selesai menyaksikan drama semalaman yang dilakonkan oleh dua atau tiga bahkan bisa jadi empat kawanku. Mereka adalah pelakon yang sangat berprestasi, membuat menejemen konflik yang apik sehingga tercipta konflik yang sesuai dengan harapan mereka, saking apiknya — hingga menciptakan konflik yang sebenar-benarnya, sial.
Untuk menghargai pementasan mereka yang dihelat di kantor, aku meneguk air putih sebanyak-banyaknya. Sial lagi, aku mabuk perkara air putih, ndeso! Ora elit! Berakhir dengan sembelit.
Samar-samar kudengar sekumpulan kawan lain penuh protes dengan pertunjukkan drama yang dilakonkan oleh dua tiga bahkan empat kawanku, terlalu radikal-- benar-benar menjadi konflik sungguhan. Seperti ada unsur adu domba, katanya.
Aku sebagai orang awam yang tak mampu membaca konflik yang tengah terjadi--hanya diam saja. Sesekali berusaha muntah agar mual dan pusingku segera mereda saat menghirup dalam-dalam keadaan.
Dasar kau bodat! Gondes! Jancuk!
Umpatan saling serang terdengar samar di telangaku, maklum saja aku masih setengah sadar.

Masa bodo dengan loyalitas, kawan, hak, bos besar, dan perintilannya.

Aku hanya memikirkan perasaan bosku cilik yang terlalu baik, karena ia senang mendengar Figura Renata atau Efek Rumah Kaca -Sebelah mata.
Salam.

Comments

Popular Posts