Antara Kaos dan Kaus: Serupa tapi Tak Sama

Dua Hal; Kaos Panjang atau Kaus Panjang?

           Adik-adik manis, mengingat dua hari lagi acara Jalan Sehat di desa ini akan dilaksanakan, saya mengingatkan seragam yang digunakan untuk acara tersebut yaitu celana training dan kaos panjang. Untuk itu, saya harap kepada adik-adik yang sudah bersedia hadir di technical meeting hari ini, dapat memberitahukan informasi ini kepada kawan-kawan lain yang tak sempat hadir.

Pak Ngadyo mengumumkan informasi mengenai pakaian yang harus digunakan saat acara Jalan Sehat, di Balai Desa. Warga Desa dihimbau untuk menggunakan celana training dan kaos panjang. Hampir seluruh warga memahami himbauan dari Pak Ngadyo, terkecuali Wanto, salah seorang remaja karang taruna yang merupakan Sarjana Sastra Indonesia—ia bertanya: “apakah dalam acara Jalan Sehat besok akan terjadi kaos? Jika ia, apa penyebabnya?”. Kemudian Pak Parjito terlihat bingung, seperti miss komunikasi antara Pak Parjito dengan Wanto.

          “yang saya tahu itu kaus, Pak. Jadi, besok kita pakai kaos atau kaus?”

***
Sementara, di lain tempat: warga yang tidak hadir ke technical meeting memilih untuk menonton teve, menanti-nanti persidangan mengenai kasus Jessica dan Mirna. Berbincang dengan tetangga mengenai kasus persidangan yang tak kunjung selesai. Entah, apa ini semacam pengalihan isu atau bukan-- yang mereka tahu, kasus tersebut semakin hari semakin seru, memanas. Bukannya malah cepat selesai, namun semacam hiburan tersendiri bagi warga desa. Galuh bertanya, memecah keheningan saat serius menonton sidang Mirna di teve:

Sampeyan ra teko nang Balai Desa? Onok rapat kanggo acara sesuk Jalan Sehat.”
“Males. Iniloh Mbak, aku mau nonton sidangnya Jesica. lagi seru! Kemarin terjadi kaos yang panjang antara jaksa dan pengacara Jesica, karena Otto menganggap jaksa tidak menghormati saksi ahli dari Jessica. Terjadilah kaos panjang”, jawab Surti.

Kemudian Galuh menjawab: “loh Sur, jaksa kemarin bukannya gak pakai kaos panjang? Pengacaranya juga gak pakai kaos panjang. Yang Aku lihat kemarin di teve, mereka pakai kemeja bukan kaos panjang”.

Surti mengernyitkan dahi setelah mendengar tanggapan dari Galuh. Ia memilih diam, tak menjelaskan. Dalam hati ia menggerutu “miss komunikasi ini.”
“Jadi, yang terjadi di sidang kemarin itu kaos panjang atau kaus panjang?”
***

Bukankah kaos panjang dan kaus panjang sama saja? Mengapa saat menyebutkan keduanya, seringkali ada saja yang berbeda pendapat? ternyata menimbulkan miss komunikasi antara penutur yang satu dengan  penutur yang lain; Dia sebut kaos, Aku sebut kaus. Jika memang berbeda, di mana letak perbedaannya? Kaos dan kaus dianggap dua hal yang sama, sudah menjadi budaya di masyarakat. 

Benarkah serupa tapi tak sama?

Comments

Popular Posts