Pasar Bisa Diciptakan?

Sibak Pasar Wage-Pahing Windusari, Magelang




[[apa guna bung malu-malu kucing, meong, meong di belakang suaranya nyaring]]

Sepenggal lirik lagu berjudul ‘Aksi Kucing’ terdengar samar di dalam keramaian pasar Windusari. Entah siapa yang memutar; pikirnya mungkin berasal dari toko mas-mas penjaja kaset, atau toko mas-mas penjaja topi anak-anak muda tren masa kini, atau mungkin saja berasal dari toko si mbah penjaja tiwul, Mbah Peni—mungkin saja, walau Denila hanya menerka; sebab mbah Peni tak pernah absen membawa radio usangnya sebagai teman untuk menemaninya berjualan.
**

‘Pasar bisa diciptakan’, sebut Efek Rumah Kaca saat release single barunya. Diingatnya baik-baik dan dicerna mengenai sebuah judul lagu dari Efek Rumah Kaca: “Pasar bisa diciptakan”, sembari berjalan masuk ke dalam pasar Windusari yang hanya ada pada hari Wage dan Pahing. Denila mempercepat langkahnya menuju toko sayur Mbok Awul, khawatir sayur yang akan dibeli sudah habis.
Benar saja, ketika sampai di Mbok Awul, sayuran yang tersisa hanya kacang panjang, jamur, sop-sopan, dan beberapa bumbu dapur lainnya. “sampun telas Mbah?” Tanya Denila dengan Bahasa Jawa yang krama- Ia hanya mencobanya, sebenarnya Ia tak bisa berbahasa Jawa krama. Mbok Awul menjawab dengan Bahasa Jawa krama juga, namun Denila tidak paham. Dalam hati Ia menggerutu “duh, Aku ra mudeng. Piye iki?. Inti dari jawaban Mbok Awul adalah “ini sisanya, kamu kesiangan datangnya, pagi-pagi tadi sayuran sudah diborong sama pembeli sebelumnya”, pembeli lain menjelaskan seolah paham jika Ia tak mengerti.
**

Ia kembali ke rumah budhe dengan berjalan kaki, kebetulan jarak antara pasar dan rumah hanya berjarak beberapa ratus meter, sangat dekat. Dengan setelan baju tidur dan sandal jepit, beserta wajah tanpa make up dan menenteng belanjaan dari pasar, Ia berjalan dengan perasaan senang. Benar saja, katarsis yang dijalankan Denila berhasil,  di desa, Ia merasa mampu meluapkan emosi jiwanya. Ia banyak disapa orang-orang di jalan, kemudian ia mengembangkan senyum sembari berkata: “Mari Mbah, Lik, Mas, Pak”, apapun itu sebutannya. Ia benar-benar merasa senang dengan sapaan tersebut, tak peduli Ia tak mengenalnya.
Sesampainya di rumah Ia bergegas ke dapur, dibawanya belanjaan itu ke dapur: “budhe, sayurannya udah pada habis”. “ho oh ho? Kamu kesiangan og, di sini itu jam sembilan sudah penghabisan, nduk”, jelas budhe padanya. “Kamu beli sayur apaSini tak masakin”, lanjut budhe. “Cuma beli jamur, mau ditumis aja, dhe”.Kemudian percakapan ngalor-ngidul dengan budhe berlangsung selama memasak di dapur.
Dari percakapan tersebut, Ia baru mengetahui setiap kali pasar dibuka, orang-orang memborong belanjaan untuk persediaan dua hari ke depan, karena ternyata pasar tidak dibuka setiap hari. Pantas saja jam sembilan pagi pasar sudah menjual penghabisan, sudah hampir sepi. Jam delapan sudah dianggap kesiangan bagi orang-orang yang akan berbelanja ke pasar. Padahal jika Denila di rumah, berbelanja di pasar Kebayoran, Jakarta- Ia bebas berbelanja kapan saja. Pasar tak pernah tidur selama dua puluh empat jam.
**

Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi adalah sistem tanggalan Jawa yang biasanya digunakan oleh orang-orang Jawa. Saat mengadakan kegiatan, orang-orang Jawa selalu memperhatikan tanggalan tersbut, seperti acara pernikahan, pengajian, bahkan dalam kegiatan transaksi jual-beli di pasar. Seperti di Pasar Windusari, hanya melakukan transaksi jual beli pada Wage dan Pahing.
Mungkin saja, ini menurut pendapat Denila sendiri Wage dan Pahing adalah tanggal yang belum digunakan oleh pasar-pasar di daerah lain untuk melakukan transaksi. Gampangnya, tanggal tersebut sudah ditetapkan sebagai giliran adanya transaksi jual-beli di setip pasar, contoh pasar lain di dekat pasar Windusari adalah pasar Selopampang, pasar tersebut hanya buka pada tanggal Pon. Legi, dan Kliwon, begitu juga di pasar-pasar lain. 
Pada dasarnya pasar di desa-desa melakukan transaksi jual-beli setiap hari, namun pasar tersebut berpindah-pindah tempat, berbeda desa- sebenarnya penjualnya yang berpindah-pindah tempat, ber-rotasi setiap harinya. Bagi orang-orang desa yang tidak berkebutuhan mendesak, mereka akan menunggu hari di mana datangnya pasar di desa mereka, kemudian berbelanja banyak sekaligus karena khawatir besok pasar tak akan datang setelah satu hari pasar sudah datang ke desa mereka.
Lain hal jika mereka yang berkeadaan mendesak, lalu pada hari itu pasar tak datang ke desa mereka, mereka rela mendatangi desa lain yang desanya sedang kedatangan pasar. Para pembeli berbelanja ke desa orang, menumpang menghabiskan belanjaan-belanjaan yang dijajakan oleh penjual di desa setempat. Tidak masalah hal tersebut terjadi, sebab bukan suatu tindak yang dianggap kriminal, sebab pula kehidupan masyarakat di desa tak pernah keruh, perihal numpang-menumpang melakukan transaksi di pasar bukan suatu hal yang salah, mereka saling membantu mencipta pasar.

Pasar Windusari, Pasar Selopampang, Pasar Bandongan, Pasar Balesari, Pasar Rejowinangun, Pasar Karangjati, Pasar Babadan, bahkan pasar Kebayoran yang ada di kota pun, dan pasar-pasar lainnya yang sudah sempat ia kunjungi—bisa diciptakan, kapan pun itu.

Ini hanya pemikiran Denila tentang pasar Wage dan Pahing, tentang Pasar yang bisa diciptakan seperti judul lagu dari Efek Rumah Kaca. Pemikiran yang mungkin bisa benar, dan bisa juga salah.

Comments

Popular Posts