Keberadaan Blangkon dalam Era Glokalisasi

Blankon Tak Kehilangan Tuannya dalam Menghadapi Era Glokalisasi

Notodihardjo belajar kerajinan dari Karto Thole, seorang teman dekatnya- pembuat blankon yang menerima perintah dari keluarga kerajaan. Tak lama, Karto meninggal dunia dan Noto melanjutkan bisnis kawannya tersebut. Lalu, anak Noto yaitu Slamet juga diajarkan membuat blankon, tetapi Slamet membuat blankon untuk dijual di pasar.Setelah ayahnya juga meninggal dunia, Slamet menjadi seorang pembuat blankon terkenal dengan kualitas paling baik, maka dari itu konsumennya adalah orang-orang tertentu, seperti anggota keluarga raja, presiden, mentri, dan jajarannya. Slamet pun dinobatkan menjadi maestro blankon dari Yogyakarta. (Navianto, Nagari).
Blankon adalah tutup kepala yang digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Jika menilik sejarah blankon, yaitu dimulai dari adanya cerita legenda Aji Soko, Ia menggunakan iket kepala saat mengalahkan musuhnya, Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa- yang hanya dengan menggelar sorban, dapat menutup seluruh tanah Jawa. Kemudian Aji Soko dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941.
Menurut sebuah sumber di laman web Coretan Ghulam, blankon adalah satu dari sekian pakaian khas Jawa yang dipakai sebagai penutup kepala bagi pria, mulai dari kalangan kerajaan, bangsawan, hingga kalangan bawah pada era kerajaan Jawa sampai masa kolonial Belanda. Pada akhirnya blankon dianggap sebagai simbol bagi para pria dari suku Jawa yang juga mengandung filosofi-filosofi. Pertama terkait dengan simbol-simbol agama Islam; bagian belakang blankon merupakan simbol dari shahadat, yaitu shahadat Tauhid dan shahadat Rasul. yang kedua, blankon sebagai pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gede (makrokosmo).
Dewasa ini, seiring berjalannya waktu: era kolonialisme berganti menjadi era globalisasi, penggunaan blankon tidak hanya digunakan sebagai penutup kepala oleh pria Jawa, namun juga digunakan pada acara-acara tertentu, seperti acara pernikahan, dan dalam festival-festival yang menggunakan tema-tema tradisional, seperti dalam acara “Kartinian”, adik laki-laki saya yang baru duduk di Taman Kanak-kanak (TK) Jakarta, dianjurkan untuk menggunakan baju adat pada Hari Kartini, Ia menggunakan baju adat Jawa lengkap dengan blankonnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan blankon tidak hanya terjadi pada pria Jawa, dan tidak hanya terjadi di kalangan kerajaan.
Berbicara mengenai blankon yang notabene adalah hasil dari kebudayaan lokal Jawa, dan penggunaannya di era globalisasi ini, maka keduanya disebut dengan glokalisasi. Di mana glokalisasi adalah hasil dari gabungan kata ‘lokal’ dan ‘globalisasi’, seperti yang kita ketahui bahwa globalisasi dewasa ini telah menjadi kebudayaan kita hari ini. Alasan blankon dikatakan sebagai glokalisasi, karena dilihat dari fungsinya yang sampai saat ini masih digunakan sebagai penutup kepala, namun bukan hanya digunakan oleh pria Jawa dengan pakaian adatnya, melainkan juga digunakan dengan menggunakan pakaian kemeja dengan setelan celana jeans.


blankon yang dipadukan dengan jeans, dok: pribadi
Mengapa saya mengangkat blankon dalam era glokalisasi ini, karena saya terinspirasi dari Ayah saya sendiri yang pada dewasa ini sering menggunakan blankon sebagai penutup kepala, namun tidak hanya menggunakan blankon pada acara-acara resepsi pernikahan dan pada saat memakai baju adat saja, melainkan Beliau menggunakan saat bepergian, seperti acara liburan keluarga, saat silaturahim ke rumah saudara, saat menyetir mobil, saat pergi ke Mall, bahkan saat berangkat kerja ke proyek pun digunakannya.
Ayah saya adalah orang Gunung Kidul, Jogja. Asli keturunan Jawa, namun beliau merantau ke Jakarta. Beliau sudah menghabiskan hidup di Jakarta selama 25 tahun. Ayah adalah orang yang nyeleneh, tak mau disamakan dengan yang lainnya. Seperti style-nya yang gemar menggunakan blankon sebagai penutup kepala.Beliau menggunakan blankon bukan dengan setelan pakaian adat, melainkan sering sekali mengenakan setelan kaos dan celana jeans yang bermotif sobek di bagian lututnya beserta sandal jepit. Walau terkadang saat bepergian sesekali beliau menggunakan blankon dengan setelan baju dalang/ klambi lurik / kemeja batik dan dilengkapi celana jeans dan sandal jepit.
orang jadi tahu kalau Ayah itu orang Jawa sewaktu melihat Ayah menggunakan blankon. Apalagi Ayah hidup di tengah-tengah masyarakat yang bukan orang Jawa. Jadi sengaja, biar Ayah punya ciri khusus di antara mereka.”, pungkas Ayah saat saya tanyakan perihal kegemarannya mengenakan blankon saat bepergian ke mana-mana. Selain itu Ayah melanjutkan menjelaskan dengan santai dan nyeleneh:
belum pernah Ayah temui, style seperti Ayah ini. Menurut Ayah ini keren, apalagi blankon itu harus dikenalkan ke masyarakat luar Jawa, agar mereka paham ini loh hasil budaya Jawa, walaupun Ayah nunjukkinnya agak nyelenehbukan Jawa banget sih kalau yang nyelenehini. tapi kan setidaknya mereka lihat Ayah dan blankon Ayah, mereka penasaran jadi pengen tahu, setelah itu mencari tahu, dan mereka tahu. Semisal nanti Ayah temui ada yang samaseperti Ayah, berarti di sini Ayah yang menjadi trendsetter.


Saya memahami apa yang telah dijelaskan Ayah saya mengenai hal tersebut, mengenai budaya lokal Jawa, khususnya blankon yang telah berhadapan dengan era glokalisasi. Dari yang saya dapat dari peristiwa yang saya hadapi, di era globalisasi ini penggunaan blankon yang awalnya hanya sebagai penutup kepala saja, bertambah fungsi yaitu selain sebagai penutup kepala, juga dianggap sebagai fashion yang penggunaannya dipadukan bukan lagi dengan pakaian adat, melainkan dengan pakaian-pakaian modern saat ini. Hal ini menurut saya baik, mengingat dalam perjalanannya blankon ‘hampir’ kehilangan tuannya, namun nyatanya tetap bertuan dalam menghadapi era glokalisasi.

Comments

Popular Posts