Antara Duka dan Sepak bola Thailand

Kebangkitan dalam Sebuah Duka di Tanah Thailand
Sepak Bola, dok: google

Langit Thailand dipenuhi warna gelap pada Kamis, 10 Oktober 2016. Hari itu Sang Pemersatu Thailand meninggal dunia, Ia adalah Raja Bhumibol Adulyadej. Merasa lelah dengan penyakit yang dideritanya beberapa tahun belakangan, Ia menyerah di usianya ke 88 tahun.

Masyarakat Thailand pada umumnya senang dengan adanya perayaan, salah satu perayaan yang digelar dengan antusias adalah perayaan tahta Raja. Perayaan tujuh puluh tahun tahta Sang Pemersatu pada 7 Juni 2016-- Sayang, perayaan kali ini dibayangi dengan kesehatan Sang Pemersatu yang menurun, menyedihkan- membuat warna langit Thailand menjadi gelap hingga tiba pada saat kematiannya.

Kematiannya menjadikan Negara tersebut ikut mati, semuanya berubah menjadi hitam pekat, semua harus ikut merasakan sekarat, Ah dasar keparat! Masa berkabung dibuat selama mungkin, tak diizinkan bila hanya tiga sampai tujuh hari seperti perayaan tahlilan di Indonesia. Negara harus dimatikan selama satu bulan penuh, warna negarapun harus hitam, harus. Semua harus patuh, karena Sang Pemersatu Thailand sudah berkorban banyak untuk masyarakat sejak 9 Juni 1946.

Kematian Sang Pemersatu bertepatan dengan akan digelarnya Piala AFF 2016, dengan kebetulan yang mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah adalah Thailand itu sendiri. Semua persiapan telah dilakukan, namun sayang persiapan tersebut menjadi berbelok arah- bukan digunakan untuk menyambut kehadiran Piala AFF 2016, Thailand malah menyambut kematian Sang Raja- merayakannya dengan penuh duka. Thailand menutup diri untuk menjadi tuan rumah setelah kehilangan sang pemilik rumah,  akhirnya tuan rumah Piala AFF 2016 pun dialihkan oleh Thailand.

     Berbicara mengenai Piala AFF, berarti menilik dunia persepak bolaan. Thailand adalah negeri yang sepak bolanya sudah berkembang di antara Negara-negara Asia. Namun di balik berkembangnya sepak bola Thailand yang lebih jauh di atas sepak bola Negara-negara lain di Asia, terdapat sebuah perjalanan yang penuh liku dan penuh duka.

     Awalnya era keemasan sepak bola Thailand terjadi pada babak kualifikasi Piala Dunia 2002. Timnas Thailand menjadi tim yang lolos pertama dari babak kualifikasi sejak pertama pada 1973 di bawah pimpinan Peter With, asal dari Inggris. Namun pernah disebutkan dalam laman fourfourtwo mengenai suka-duka perjalanan sepak bola Thailand. Disebutkan awal kemunduran Timnas Thailand yaitu pada saat merosotnya posisi Timnas pada 45 ranking FIFA yang menghancurkan perasaan para fans. Kemudian pada tahun 2004  sang Raja mulai digulingkan yang berdampak pada jatuhnya persepak bolaan Timnas Thailand. Namun setelah itu Liga mulai berkembang pada tahun 2008 di Thailand- hal tersebut tak menjadikan Timnas ikut berkembang. Manajemen yang buruk merupakan akar dari semua kegagalan kemunduran Timnas Thailand.

   Namun dari semua liku yang dihadapi, Timnas Thailand mampu menjadi Tim yang paling berkembang di Asia. Baru saja pertandingan Final AFF 2016 laga kedua digelar, Thailand keluar sebagai pemenang dengan agregat 3-2 setelah sebelumnya dikalahkan Timnas Indonesia di kandang Indonesia dengan skor 2-1. Timnas Thailand mampu membalas kekalahan di kandang sendiri dengan skor 2-0.


     Dengan keluarnya Thailand sebagai juara AFF 2016 memperkuat statement bahwa memang benar sepak bola Thailand berkembang begitu jauh di Asia, dan membuktikan bahwa ditinggalnya oleh Sang Pemersatu, yaitu Sang Raja menjadikan Timnas Thailand kuat dan tidak mengalami kemunduran, sekaligus kemenangan ini menjadi hadiah bagi mendiang Sang Raja, Sang Pemersatu Thailand.








Comments

Popular Posts