Memulai Berhijab tanpa Menunggu Taat

Pengalaman Berhijab tanpa Menunggu Taat

Saya adalah perempuan muslim yang kira-kira baru mengenakan hijab selama 3,5 tahun belakangan ini. Mengapa saya akhirnya memutuskan berhijab? Bagaimana saya pada akhirnya merasa mantab berhijab? Siapa yang memacu saya hingga pada akhirnya saya mau berhijab? dan bagaimana kehidupan saya sebelum dan setelah berhijab? Baiklah, saya akan mulai bercerita urut di sini.


Hijab tanpa Menunggu Taat, dok: pribadi

     Sebagai perempuan muslim, saya paham dengan adanya perintah agama yang mewajibkan perempuan menutup aurat, terlebih perintah tersebut sudah tertuang dalam ayat Al-Quran, seperti QS. Al-A'raf ayat 26 dan QS. Al-Ahzab ayat 59. Namun sejujurnya bukan hal tersebut yang pertama kali membuat saya berpikir untuk berhijab, melainkan karena saya merasa malu dengan teman-teman dekat saya (mereka semua berhijab kecuali saya sendiri). Rasa malu saya saat itu membuat saya risih karena saya selalu "kepikiran" dan kadang sulit tidur.

     Waktu itu saya memiliki lima teman dekat di kampus, pertemanan kami sudah berjalan satu tahun: mereka dengan hijab dan saya belum mau berhijab. Saya merasa saya adalah perempuan yang hobi mengumpat, berbicara keras, ketawa ngekek, senang bergosip, memiliki sikap yang tidak bisa anteng, dan lain-lain yang jauh berbeda dengan teman-teman saya yang telah berhijab. Hal tersebut terkadang membuat saya urung berhijab.

     Memasuki bulan suci Ramadhan di tahun pertama saya berkuliah (akhir semester dua), saya semakin sering bepergian dengan teman-teman saya: pergi cari makan bareng, ngemall bareng, sampai kami pun sering berfoto. Ketika berfoto saya merasa iri dengan penampilan saya yang berbeda sendiri, saya tanpa hijab- mereka tampil rapi dengan hijab. Lalu saya mulai berpikir untuk mengenakan hijab, namun masih dengan pikiran yang bimbang: akhirnya saya bercerita dengan teman-teman saya, orang tua saya, bahkan kakek nenek saya ketika saya menyempatkan waktu pulang ke rumah di kala libur kejepit kuliah.
Mereka memberi tanggapan yang positif terhadap keresahan saya terkait mengenakan hijab, mereka menguatkan saya, serta mendukung saya sepenuhnya.
"berhijab gak perlu menunggu taat, justru dengan berhijab boleh jadi kamu akan semakin taat", beberapa teman saya menguatkan.

     Saya pikir bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk saya meyakinkan diri untuk berhijab. Meminta kepada Gusti Allah untuk diberi petunjuk serta meminta dimantabkan hati agar serius dalam berhijab (waktu SMP saya mencoba belajar mengenakan hijab, namun saya bersikap mood-mood-an: karena hanya mengikuti tren: akhirnya saya lepas hijab kembali).
Mungkin karena saya adalah orang yang selalu "kepikiran", selama saya berada di masa "meminta kepada Gusti Allah" saya selalu mendapat mimpi selama enam hari berturut-turut:
pada mimpi pertama saya bertemu dengan seorang teman dekat sedari SMP yang kini sudah berhijrah dan akan menikah dengan cara taaruf di akhir tahun ini. Ia mengajari saya bagaimana cara mengenakan hijab yang baik: "hijab gak bikin kamu jelek, kamu juga masih bisa main futsal, naik gunung, berenang juga kalau udah pakai hijab", katanya.
Mimpi kedua, ketiga, keempat, dan kelima: semua tentang obrolan mengenai hijab. Kemudian pada mimpi keenam, saya baru merasa mimpi saya seperti nyata: Saya memimpikan lima teman kuliah saya, lalu kami memutuskan untuk pergi ke mall. Mereka berlima tetap mengenakan hijab, sedangkan saya hanya mengenakan kemeja dan celana cino cokelat favorit saya. Namun anehnya setelah sampai di mall saat saya menatap ke cermin, saya melihat diri saya yang berada di cermin telah berhijab bersama dengan teman-teman saya. Saya kaget dan tiba-tiba bangun dari tidur.
Setelah itu saya kembali berkonsultasi dengan orang tua saya: "itu memang tandanya kamu sudah disuruh pakai hijab, Gusti Allah sudah memberi jawaban dari doa-doamu. Lagipula kamu ya sudah semakin beranjak dewasa, jadi mau kapan lagi?", jelas dan tanya ibu.
Akhirnya di bulan Ramadhan itu juga saya mantab untuk mengenakan hijab, tanpa khawatir dengan segala perilaku saya.

    Saya kembali ke Semarang dengan penampilan saya yang baru, namun saya masih malu-malu-- teman-teman saya menerima saya dengan sangat baik. Bahkan saya mendapat berbagai tanggapan positif dari hampir seluruh teman kampus terkait penampilan saya yang telah berhijab: mulai dari memuji hingga memberikan saya banyak hadiah hijab semata-mata untuk mendukung saya dalam berhijab.
Adakah perubahan setelah memakai hijab? Ada. Perubahan itu banyak datang dari luar, seperti dari orang lain yang lebih menghargai saya sebagai perempuan muslim. Perubahan saya sendiri? saya lebih berusaha untuk mengurangi perilaku yang kurang baik. Walaupun sebenarnya tanpa berhijab pun setiap perempuan pasti akan memperbaiki dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, semua itu adalah pilihan yang tetap harus dihargai oleh siapa pun.

     Sejauh 3,5 tahun saya memakai hijab, saya merasa jika perilaku saya masih banyak menyimpang (sudah pakai hijab perilaku kok masih jelek). Bagi saya semua itu adalah proses, saya menganggap berhijab adalah cara saya mengenakan identitas sebagai seorang muslim dan juga salah satu cara saya memenuhi kewajiban saya dalam menjalankan perintah Gusti Allah yang bersifat wajib, walaupun perilaku saya masih menyimpang. Sama seperti dengan solat, solat saya pun belum kusyuk-kusyuk amat dan masih sering telat,  namun saya tetap saja solat karena itu saya memenuhi perintah wajib Gusti Allah. Toh saya pun tetap berusaha yang terbaik walau praktiknya belum baik.

   Dapat berhijab adalah hidayah bagi saya, mungkin bagi perempuan-perempuan muslim yang telah berhijab pun demikian.
Hidayah itu tidak akan datang dengan sendirinya, sebab hidayah datang karena saya berpikir, dan terus berpikir. Setelah berpikir saya akan menjemput hidayah saya sendiri. Tapi yang perlu harus saya ingat:

hidayah tidak datang dari pikiran atau pilihan hidup yang salah melainkan yang benar.

Comments

Popular Posts