Kata Bakyak dalam "Sanggar Bakyak"

Asal Mula Kata Bakyak dalam “Sanggar Bakyak”

Bukan tanpa cerita laman blog ini dibuat, bukan tanpa cerita pula tulisan ini dimuat. Sebuah Sanggar kecil yang berada di tengah masyarakat kampung Pondok Pinang, Jakarta Selatan: Sanggar Bakyak.
Mari bercerita!

Sanggar Bakyak Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dok: Sanggar Bakyak

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, setelah peristiwa tersebut rakyat Indonesia menganggap bahwa bangsa mereka telah merdeka. Memang benar, di atas kertas Indonesia sudah memerdekakan diri dari penjajah- tak ada lagi yang berhak untuk menjajah bangsa Indonesia. Namun sesungguhnya, peristiwa tersebut menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk berjuang dalam mengatur bangsanya. Mereka dituntut untuk tetap berjuang dalam memajukan Indonesia-- meneruskan segala perjuangan para pahlawan terdahulu yang telah memerdekakan Indonesia dari penjajahan; seperti yang telah disebutkan Chairil Anwar dalam puisinya:
“kenang-kenanglah kami. Kami sudah coba apa yang kami bisa, tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu nyawa—teruskan, teruskan jiwa kami. Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Syahrir. Berikan kami arti..” (CA dalam Karawang-Bekasi).

Empat puluh lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan: sebuah perkampungan padat di daerah Jakarta Selatan, yaitu Pondok-Pinang-- tentunya melalui berbagai kesadaran, bahkan mungkin saja tersadarkan oleh puisi Chairil Anwar yang telah disebutkan sebelumnya di atas, atau mungkin sebab lain; dua dari banyak remaja yang bertempat tinggal di kampung Pondok-Pinang, bernama Oni Bio dan Akri Patrio (baca: dua orang pelawak) mulai bergerak dalam sebuah kegiatan di mana kegiatan tersebut dibentuk untuk memajukan kampung yang dianggap sebagai tempat tinggalnya, menggali potensi yang ada di sekitar. Keduanya berpikiran bahwa, paling tidak ini adalah sebuah bentuk dari meneruskan perjuangan para pahlawan terdahulu.

Selain dari beberapa alasan di atas, tak dapat dipungkiri ada satu alasan kuat yang membuat keduanya ingin aktif dalam meneruskan perjuangan pahlawan; berangkat dari sebuah keresahan keduanya, di mana mereka sempat aktif dalam sebuah organisasi nonprofit di daerah tempat tinggalnya.  Program demi program telah berjalan, organisasi yang awalnya berlatar belakang nonprofit, kemudian berubah seperti event orginizer: Semua program dijalankan, tentunya dengan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Visi dan misi yang awalnya dibentuk dan telah disepakati, dianggap tak lagi sesuai. Mereka seolah lupa bahwa organisasi tersebut adalah organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, organisasi nonprofit yang tak semestinya digunakan untuk mencari sekedar keuntungan, apalagi keuntungan  sebesar-besarnya.

Dianggap sudah berjalan tak sesuai dengan visi dan misinya, dua anggota organisasi tersebut memutuskan untuk menonaktifkan diri dari organisasi tersebut- kemudian memilih untuk mendirikan sebuah sanggar, dimulai dari lingkup terkecil di tempat tinggalnya, yaitu Rukun Tetangga (RT). Sebuah sanggar itu diberi nama “Sanggar Bakyak”. Sanggar Bakyak berdiri tepat pada saat perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, 17 Agustus 1990. Sanggar Bakyak berasal dari kata Bakyak yang merupakan sebuah akronim dari banyolan kocyak ala kampung. Banyolan itu sendiri diartikan sebagai: menyampaikan sesuatu melalui media kreativitas dengan keceriaan, semangat, jujur, dan sebuah keihklasan, mengingat latar belakang profesi dari kedua pendiri sanggar ini adalah sebagai pelawak.

Sanggar Bakyak ini merupakan suatu wadah kreativitas para remaja, khususnya lingkup Rukun Tetangga (RT) setempat, dengan menekankan satu kesatuan. Sang pendiri mengharap dengan adanya sanggar ini, dapat menjadi wadah para remaja untuk menjadikan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain, tanpa mencari keuntungan-keuntungan pribadi maupun kelompok:
"dengan sedikit modal atau bahkan tanpa modal, anak-anak sanggar bakyak bisa menghasilkan karya yang dianggap sangat mahal oleh para penikmatnya, yaitu melalui banyolan ala kampung. Perkumpulan ini bukan event organizer, melainkan komunitas nonprofit yang bertujuan memajukan daerah setempat", (Kirang, Ahmad: penerus Sanggar Bakyak generasi ketiga).

Hingga saat ini Sanggar Bakyak sudah mencipta empat generasi, dan akan terus melahirkan generasi baru yang diharapkan lebih mampu memajukan kampung Pondok Pinang.

Comments

Popular Posts