Bubarnya Band Indie Lokal "Banda Neira" Membuat Baper



Banda Neira Pergi, Sungguh Berita yang Menyayat Hati

Banda Neira adalah nama salah satu pulau yang ada di Indonesia, tepatnya berada di kepulauan Banda. Saya memang bercerita tentang Banda Neira, namun bukan tentang pulau melainkan tentang sebuah band lokal yang berdiri secara independen atau biasa disebut dengan band indie. Apasih band indie itu? band indie adalah band yang berdiri sendiri di mana semua pengerjaan seperti rekaman dan pemasaran tanpa melalui perusahaan rekaman yang memiliki nama, biasanya band indie ini menghasilkan karya yang antimainstream karena berbeda dengan band-band yang karyanya mengikuti tren pasar.

     Saya sendiri sangat menyukai band-band indie lokal, salah satunya band indie yang bernama "Banda Neira". Jika kalian juga menyukai Banda Neira, kalian pasti sangat menikmati permainan-permainan musik dari Ananda Badudu dan Rara Sekar (personel); keduanya memiliki suara yang khas saat bernyanyi. Selain itu karya-karyanya yang nyastra membuat saya merasa "oke ini cocok sekali".
Namun belum lama nama Banda Neira dikenal banyak orang, Ananda Badudu dan Rara Sekar memutuskan untuk membubarkan Banda Neira;  sungguh berita kepergian Banda Neira menyayat, seperti belati.

     Tiga tahun lalu di tahun 2013 saya baru saja mengenal Banda Neira lewat Hujan di Mimpi. Kemudian saya tertarik untuk mengenal karyanya yang lain: Berjalan Lebih Jauh, Di Atas Kapal, Ke Entah Berantah, Esok Pasti Jumpa, Senja di Jakarta, Kisah Tanpa Cerita, Di Beranda, dan Rindu, semua terbungkus apik dalam album "Berjalan Lebih Jauh". Tapi ada satu lagi yang belum saya sebutkan, Mawar. Mawar tidak begitu menempel di pikiran saya, sebab mawar jauh lebih baru saya dengarkan dibanding yang lainnya.

Banda Neira, dok: google
     
     Berbicara Banda Neira yang bubar, saya mengingat kisah tentang seseorang di masa lalu, atau sebut saja dengan roman picisan. Mudahnya, Banda Neira sempat mencipta kenang saya dengan seseorang. 
Kali ini saya pun bercerita dengan sedikit melankolis dan agak puitis, karena saya terbawa suasana dalam hal kenang-mengenang, ingat-mengingat (baper). Baiklah, mengingat kembali tiga tahun lalu, berarti mengingat pertama kali Saya "setiap saat" memutar Banda Neira di mana pun; mengingatkan saya pada seseorang, kembalinya saya untuk jatuh hati kepada seseorang setelah pernah jatuh sebelumnya. Waktu itu rasanya sangat menyenangkan! Banda Neira menemani hati saya bersuka, lagu-lagu dalam album Berjalan Lebih Baik (2013) menjadi hal yang sentimentil membawa ingatan ke masa itu, saat ini.
Setelah album Berjalan Lebih Jauh yang dirilis pada 13 April 2013, Rara dan Ananda merilis Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti tiga tahun berikutnya, tepatnya pada 29 Januari 2016, album tersebut berhasil mengemas: Matahari Pagi, Sebagai Kawan, Pangeran Kecil, Pelukis Langit, Utarakan, Biru, Bunga, Sampai Jadi Debu, Langit dan Laut, re: Langit dan Laut, Mewangi, Derai-derai Cemara (1949), Tini dan Yanti, Benderang, dan Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti.
Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti, Langit dan Laut, Sampai jadi Debu, ketiganya adalah lagu yang sering saya putar. Dalam album ini Banda Neira kembali menemani hati saya, namun kali ini bukan lagi bersuka melainkan berduka; sungguh ini menyayat. Bukankah ada suka disusul dengan duka? Atau sebaliknya, ada duka ada bahagia?

     Tepat tiga tahun saya merasa bahagia karena telah jatuh cinta, tiga tahun berikutnya saya 'jatuh' juga akibat jatuh cinta. Bukankah adil seseorang yang telah membuat bahagia menyelipkan duka kepada orang yang dibuatnya bahagia? Kemudian duka yang diselipkan dipilih untuk dijaganya; sungguh duka yang dibuatnya begitu sempurna! (harap maklum membacanya:").
Yang patah tumbuh yang hilang berganti membuat saya memahami keadaan tersebut; Banda Neira sungguh memahami hati para pendengarnya, sebab itulah saya benar-benar jatuh hati pada Banda Neira.
Beruntung, saya menolak ajakannya untuk menyaksikan konser Banda Neira yang diselenggarakan oleh kampus saya. Saya lebih memilih untuk menikmati Banda Neira sendirian, tepat untuk berkatarsis. Bila saya menerima ajakannya pasti lebih menyayat setiap kali Banda Neira Saya putar.
Banda Neira menjadi hal yang sentimentil; lagu-lagunya mengajak ingatan dan perasaan kembali ke kala itu; bahagia-luka, suka-duka. Sampai pada akhirnya, Saya mendengar kabar kemarin pagi; Banda Neira pergi, sungguh Saya menyesali keputusan yang telah diputuskan oleh Rara dan Ananda. Kabar tersebut pun turut menjadi sebuah hal yang sentimentil untuk Saya.

     Kembali saya sebutkan bahwa Banda Neira telah membuat Saya jatuh hati. Lalu saya ulang; bukankah adil jika yang membuat jatuh hati menyelipkan sebuah duka? Jadi pasti ada suka, pun duka mengikuti, ada duka, bahagia di belakangnya. Dalam hal ini, setelah Saya jatuh cinta dengan Banda Neira sejak tiga tahun lalu, Saya pun berduka dengan adanya berita kemarin pagi; Banda Neira pergi- setelah tiga tahun berikutnya Saya mengenalnya. Ah seperti belati!

Badai tuan telah berlalu,
Bukankah Yang patah akan tumbuh? Yang hilang akan berganti? Yang hancur lebur, akan terobati? Yang sia-sia akan jadi makna.

Comments

Popular Posts