Cerita di Balik Arsenal vs Indonesia Dream Team 2013

Keromantisan di Balik Tandang Arsenal di Indonesia


Tur Pramusim Arsenal vs Indonesia Dream Team di GBK, dok: google

Tahun 2013 lalu Arsenal bertandang ke Indonesia dalam rangka tur pramusim, saya adalah salah satu dari ribuan orang Indonesia yang turut berbahagia.
Jika ditanya alasannya mengapa, mungkin saya akan menjawab dengan pasti: Arsenal, Olivier Giroud dan kawan dekat saya di masa lalu. Mengapa? Sebab, ia yang menghadiahi saya sebuah tiket pertandingan Arsenal-Indonesia; membawa saya ke stadion Gelora Bung Karno (GBK) untuk menyaksikan Giroud berlaga secara langsung.

     Sebelumnya saya tak mengira akan menyaksikan laga tersebut secara langsung, karena menurut saya harga tiket yang dijual agak mahal, tak mungkin dijangkau oleh anak sekolahan seperti kami (dengan uang jajan yang pas-pasan)- kecuali kami tega meminta uang kepada orang tua kami. Tapi itu tak terjadi, sebab kami menyadari pengeluaran orang tua kami sudah sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan sekolah kami.

     Kawan dekat saya memilih menjadi calo tiket saat mengetahui Arsenal akan bertandang ke Indonesia. Ia tak senang dengan klub asal Inggris ini, tapi menurutnya menjadi calo tiket dalam laga Indonesia-Arsenal dapat memberinya keuntungan besar, uang jajannya akan bertambah tiga kali lipat. Hampir seminggu ia bolos sekolah, antre dari pagi hingga sore hari demi mendapatkan tiket laga Indonesia-Arsenal sebanyak-banyaknya, kemudian dijualnya dengan harga yang sedikit lebih tinggi kepada para suporter Arsenal atau yang biasa disebut Gooners. Tak ada protes dari para suporter mengenai harga tiket yang dijual dengan harga lebih tinggi oleh para calo. Bagi mereka “jarang-jarang” Arsenal singgah di Indonesia: “Demi klub kebanggaan yang hanya sekali tandang ke Indonesia, tak masalah keluar uang berapapun. Aku senang, hati pun puas.”, ujar salah seorang suporter Arsenal saat membeli tiket di kawan saya.

     Tak ada yang menyangka, diam-diam hasil keuntungan penjualan tiket digunakan untuk menghadiahi saya tiket menyaksikan laga persahabatan tersebut secara langsung. Saya girang bukan main setelah mengetahui hal tersebut; saya tahu betul kawan saya sangat tidak menyukai klub yang satu ini- Arsenal,  tapi ia rela menemani saya datang ke stadion GBK- menyaksikan pertandingan laga persahabatan Indonesia-Arsenal.
“Saya ke GBK untuk mendukung Indonesia, bukan Arsenal”, tegasnya.
Saya tak peduli siapa yang mau ia dukung, tapi jelas ia telah mendukung saya untuk menyaksikan langsung pertandingan ini dengan menghadiahi sebuah tiket seharga Rp. 250.000,- (jika benar).

     Menurut saya tak ada yang lebih romantis dari menyaksikan pertandingan Arsenal secara langsung di stadion ditemani seorang kawan dekat dan berbaur dengan ribuan suporter lainnya; menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan sikap sempurna yang membuat saya merasa bergidik, pun suporter lainnya, dilanjut dengan menyanyikan lagu-lagu kebesaran dari klub asal Inggris ini. Kala itu bangku tribun dipenuhi dengan warna merah, sebab seluruh suporter menggunakan baju berwarna merah. Saya sendiri menggunakan jersey klub Arsenal berwarna merah, sedangkan kawan saya tetap dengan pendiriannya pada  jersey Indonesia yang juga berwarna merah.

     Lagu-lagu kebesaran Indonesia dan Arsenal dinyanyikan secara bergantian dengan tegas dan lantang oleh para suporter, dipimpin oleh ketua pemandu suporter atau biasa disebut dengan capotifoso -- bila di luar negeri julukan tersebut diberikan kepada seseorang yang telah berhasil membunuh polisi.
Terdengar dari suporter lainnya meneriakkan nama-nama pemain yang sedang berada di lapangan, baik pemain Indonesia maupun pemain Arsenal. Saya sendiri sering meneriakkan nama pemain berwajah mirip Adam Levine ini, yaitu Olivier Giroud selama pertandingan- yang pada saat itu menyumbang dua buah gol ke gawang Indonesia. 
“Giroud! Giroud!”,
Sementara kawan saya tak mau kalah, ia meneriakkan nama-nama pemain Indonesia sehingga kami terdengar sahut-menyahut. Terdengar sangat manis, romantis.

     Pada akhirnya Indonesia bermain berada di bawah tekanan, sedangkan Arsenal sendiri tanpa kesulitan mengatasi The Dream Team Indonesia dengan skor 7-0. Hasil akhir tersebut cukup menghibur The Gooners yang datang memenuhi stadion. 
“We love you Arsenal, we do. We love you Arsenal, we do. We love you Arsenal, we do. Oh Arsenal we love you!”, para Gooners bernyanyi sembari mengangkat kedua tangan ke atas. Saya pun turut dalam bernyanyi.

     Usai pertandingan kawan saya mengulurkan tangan kepada saya, seolah mengajak berjabat tangan, dan saya pun membalas jabat tangannya;
“Selamat, Kau terlihat sangat bahagia malam ini. Menyaksikan pertandingan Arsenal secara langsung berada di tengah-tengah suporter lainnya, dan Arsenal memenangkan pertandingan”. 
Saya hanya membalas dengan tatapan penuh terima kasih dan melempar senyum kebahagiaan pada malam itu. Tak ada yang lebih romantis dari berada di tengah-tengah tribun meneriakkan nyanyian-nyanyian kebesaran tim, bersama suporter lainnya, ditemani seorang kawan dekat.

     Anda mungkin berpikir saya tengah bergurau menuliskan seperti ini. Mungkin menurut anda ini terlalu picisan. Namun saya bersyukur, dan saya akui bahwa ada keromantisan tersendiri di balik tandangnya Arsenal di Indonesia pada tahun 2013 lalu.




Comments

Popular Posts