Boja: tak Serumit Kota Berfonem /a/ pada Suatu Akhiran Nama

Boja

Selamat pagi,

wahai mentari pagi yang mekar,

lengkap dengan udara segar,

yang membuat hati bergetar,

lan jiwa gemetar tanpa membuatnya memar.

Boja,

tak seperti Surabaya,

Jakarta,

Jepara,

Jogja,

maupun Tembalang-(a),

dan tempat-tempat di tengah,  maupun sudut kota yang berfonem /a/ pada suatu akhiran nama,


yang semakin hari semakin pelit memberikan udara segar untuk tiap makhluk yang gemar bernaung di dalamnya,

yang gemar bermain- mempermainkan- lengkap dengan dipermainkan,

yang gemar tertawa- menertawakan- lalu kelak tak luput ditertawakan: oleh hidup.

Boja,

tak serumit jalan raya banjarsari saat sore hari,

tak sehiruk gang Darul Aitam saat waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi,

tak segaduh proyek Ayah di Tanah Abang, yang selalu menghasilkan suara "tok-tok-ngggg-tak",

dan tak menyakitkan seperti revisi-revisi proposal maupun bab-bab skripsi.

Boja sangat sederhana:

“sesederhana apa?"

Kau tak perlu bertanya sesederhana apa,

sebab tak akan jadi sederhana jika terus kuceritakan.

Sudahlah,  lekas bergegas!

tak perlu banyak basi-basi mencari alasan sana-sini mempertimbangkan untuk pergi menikmati kota Boja.

Datang,  lalu rasakan.

Kau akan menemukan ketenangan.

Ku bilang Boja sederhana,

tak ada penjelasan lagi lainnya,
Selamat menikmati Boja,

-Boja,  10 Maret 2017

Comments

Popular Posts